Ruang berbagi untuk saling menginspirasi

kabarmakkah.com

Transformasi Pendidikan di Masa Pandemi Covid-19

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on tumblr
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on telegram

Situasi saat ini memberikan dampak pada kegiatan masyarakat. Kegiatan sosial dibatasi. Physical distancing adalah solusi yang tepat pada masa pademi Covid-19. Upaya untuk mengurangi jumlah korban dan mengurangi penyebaran virus corona.

Hal ini berdampak besar bagi dunia pendidikan. Sekolah di rumahkan hingga 2 bulan lebih. Terhitung akhir Maret hingga awal Juni. Ujian Nasional ditiadakan. Kebijakan yang diambil oleh pemerintah di tengah pademi.

Direktur dan Perwakilan UNESCO Indonesia, Shabaz Khan mengatakan, pihaknya memperkirakan 1,5 miliar siswa di seluruh dunia untuk sementara tidak sekolah karena pandemi global ini.

Sekolah di Rumah

Belajar di rumah adalah pilihan yang tepat untuk saat ini, guna menghindari resiko terdampak masa pademi Covid-19. Masing-masing sekolah menentukan sendiri proses belajarnya.

Hal ini sesuai dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia terkait surat edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19).

Alhasil, guru mendesain pembelajaran berjarak yakni belajar dan mengajar di rumah masing-masing. Solusinya yakni, memanfaatkan media daring atau online sebagai media belajar. Pembelajaran yang membutuhkan perangkat seperti komputer, laptop atau handphone dengan terhubung pada koneksi internet.

Kerja sama guru dan orangtua tanpa di sadari terjadi. Guru memastikan proses pembelajaran, orang tua mengkontrol anaknya untuk mengikuti proses belajar. Sebab situasi saat ini guru tak bisa mengontrol anak-anak layaknya di dalam kelas.

Transformasi Pembelajaran

Kondisi masa pademi Covid-19 mengakibatkan banyak perubahan. Seolah pendidikan saat ini di ‘paksa’ untuk bertrasformasi. Dampaknya waktu belajar dan kegiatan pembelajaran beradaptasi selama masa pademi demi keberlangsungan pembelajaran.

Tentu bukanlah hal mudah menghadapi perubahan dalam waktu singkat. Pembelajaran harus tetap dilakukan meskipun dilakukan di rumah masing-masing.

Hebatnya, situasi ini memicu tumbuh kecerdasan organik hingga terbentuk guru kreatif dalam menciptakan pembelajaran. Ide kreatif bermunculan. Beragam desain pembelajaran dilakukan untuk mencapai tujuan belajar. Agar materi sekolah yang seharusnya dipelajari tidak tertinggal. Seperti, membuat kuis online, membuat video, berbagi materi, kelas online dan lain sebagainya.

Baca :  Krisis Penguatan Pendidikan Karakter

Berbagai aplikasi digunakan untuk mendukung pembelajaran. Akses bimbingan belajar dimanfaatkan oleh beberapa sekolah. Hingga Stasiun Televisi Republik Indonesia (TVRI) membuat program belajar anak-anak sekolah, sebagai upaya mendukung keberlangsungan belajar di rumah.

Situasi ini tidak hanyak berdampak pada kegiatan pembelajaran di sekolah. Namun pada Pendidikan tinggi dan masyarakat banyak. Diskusi online ramai tersaji. Webinar tiba-tiba marak di perbincangkan sebagai media ruang diskusi.

Bahkan dampaknya beberapa aplikasi yang digunakan saat ini untuk mendukung kegiatan pembelajaran mendapatkan rating teratas di playstore. Alhasil, pembelajaran dengan perangkat teknologi merupakan keniscayaan. Kemampuan guru dan sekolah beradaptasi sangat dibutuhkan.

Sebuah peluang bagi dunia pendidikan pada masa revolusi 4.0, untuk memaksimalkan penggunaan teknologi. Harapannya pasca pademi Covid-19, dunia pendidikan menjadi terbiasa dengan pola pembelajaran yang baru.

0 Comments

Tinggalkan Balasan