Ruang berbagi untuk saling menginspirasi

Tradisi Menulis Guru

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on tumblr
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on telegram

Kemampuan menulis para guru kita sedang berada dalam level memprihatinkan. Perlu upaya lebih keras untuk menumbuhkannya. Perlu rajin disiram. Juga pupuk kandangnya yang agak banyakan.

Guru adalah sosok dengan kemampuan teoritis juga kemampuan praktis, lengkap dalam satu paket. Cakupan kemampuan yang luas. Maka sudah sepantasnya bisa lebih berperan dalam kancah pertukaran ide dan gagasan, yang sementara ini hanya didominasi oleh segelintir ilmuwan, pengamat, dan beberapa politikus.

Sebagai seorang cendekiawan menengah ke bawah, guru adalah bibit terbaik yang dimiliki bangsa. Sebab guru adalah rujukan pertama anak-anak yang beranjak dewasa, dalam mengenalkan ilmu pengetahuan, beserta segala keruwetannya.

Melalui ruang-ruang yang disediakan oleh dunia maya, guru idealnya bisa ikut ambil bagian dalam hiruk pikuk wacana, yang sedihnya, kadang menyesatkan. Nah, inilah posisi strategis seorang guru untuk bisa menjadi jembatan yang mumpuni, dalam meluruskan serta menjelaskan duduk permasalahan sebuah wacana yang muncul di permukaan jagad media sosial.

Persoalannya, kenapa percaturan wacana itu justru tidak datang dari para guru? Atau jangan-jangan mereka sedang sibuk bergemuruh di sosial media?, sehingga lupa untuk sekedar menulis yang baik. Ataukah karena mereka tidak mempunyai kemampuan menulis yang baik? atau bisa juga karena mereka terlalu apatis terhadap keadaan.

Geliat guru menulis sebenarnya sudah digagas oleh banyak pihak. Mereka telah banyak melakukan agenda pelatihan menulis untuk banyak guru, dengan berbagai macam format pelatihan. Yang gratisan ataupun berbayar. Yang dilakukan oleh organisasi profesi maupun oleh pihak sponsor. Tapi harus saya bilang, pelatihan semacam itu hanyalah pragmatis belaka.

Proses pelatihan yang berlangsung jauh dari kata serius. Format pelatihan dengan banyak pidato dari pejabat. Tanpa pembekalan teknik menulis yang semestinya, mereka diminta untuk membuat tulisan, semampunya, seadanya.

Sehingga tidak ada proses peningkatan kemampuan menulis yang signifikan. Namun mereka nampaknya tak ambil pusing, yang terpenting tulisannya bisa terbit, di media sponsor. Mereka sudah bangga tulisannya dimuat, tentu dengan foto profil terbaik yang ia miliki. Maka jadilah tulisan itu hanya berhenti di poin angka kredit, sekedar menambah koleksi untuk kenaikan pangkatnya.

Baca :  Kenapa Terjadi Darurat Guru di Bogor

Namun bagi sebagian guru yang berminat serius menekuni dunia tulis menulis, ia harus berjuang sendirian untuk meniti jalan terjal kepenulisan. Entah dengan mengikuti kursus atau pelatihan dari profesional. Tentu saja pelatihan yang premium dan serius.

Seharusnya pihak seperti organisasi yang menaungi guru bisa mengambil peran ini secara lebih serius.

Di lain pihak, beban berat guru juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia harus menghabiskan waktu di sekolah dengan mengajar. Di waktu senggang, ia harus mempersiapkan administrasi mengajar, yang tidak bisa dibilang sedikit. Belum lagi jika ia mendapatkan tugas tambahan, misalnya menjadi bendahara atau menangani urusan sarana prasarana.

Maka kondisi ini harus secepatnya kita pecahkan. Duduk bersama segenap pelaku pendidikan. Usulan seperti pengurangan beban administrasi, mengoptimalkan beban mengajar yang lebih manusiawi, bisa menjadi salah satu pertimbangan. Demi menuju peningkatan kualitas manusia Indonesia. Salah satunya dengan keterampilan menulis yang mumpuni.

Persoalan lain, hambatan itu kadang muncul dari dalam guru sendiri. Rasa nyaman dimanja dengan pendapatan sertifikasi, membuat sebagian guru merasa tak lagi membutuhkan apa-apa lagi. Padahal peran sentral guru sebagai soko guru bangsa, tidak berhenti hanya pada persoalan mengajar saja.

Menumbuhkan tradisi menulis bukanlah pekerjaan yang gampang, begitupun dengan budaya membaca. Tapi itu harus senantiasa kita upayakan. Agar percaturan ide, khususnya mengenai pendidikan, bisa lebih berwarna. Sehingga jangan lagi kita mendengar sebuah wacana yang hanya dipenuhi oleh orang-orang dari luar pagar saja.

Menulis tentang pendidikan, berbicara tentang ilmu pengetahuan, pantasnya memang dilakukan oleh para guru. Bukan oleh orang lain. Para guru harusnya bangga, bisa menjadi seorang ilmuwan sekaligus sebagai praktisi.

Sebab pekerjaan menulis itu, disamping sebagai wahana melepas ide yang tersimpan, ia bisa menjadi ajang aktualisasi diri. Menunjukkan bahwa guru juga mampu bersaing.

Maka kedepannya, guru tidak bisa beralibi lagi. Misalnya dengan alasan menulis menunggu waktu longgar, atau menunggu untuk bisa menulis, ataupun menunggu yang lain menulis dulu. Sebab jika menunggu sempurna, ketahuilah bahwa manusia tak ada manusia yang sempurna, kecuali Demian dan Andra and The Backbone. Eh.

Baca :  Peran Ibu Mendampingi Anak Agar 'Melek' Literasi Gawai

Persoalan keterampilan menulis sebetulnya tidak terbatas kepada profesi guru saja. Tetapi mengingat peran sentral guru, maka seyogianya keterampilan ini memang harus dimulai dari seorang guru. Sebab guru adalah gerbang rujukan pertama anak-anak bangsa, baik secara formal akademis maupun sosial.

Sehingga jika tradisi ini bisa dimulai secara simultan dan berkelanjutan oleh guru kepada segenap audiennya, maka harapannya tradisi menulis, yang baik ini, akan cepat tersebar. Sebab guru adalah agen perubahan pertama bagi kemajuan bangsa.

Hingga suatu waktu, rasa rindu saya pada sosok Plato atau Al-Ghazali, yang juga seorang guru, dapat terobati. Melihat para guru mampu membawa perubahan bagi bangsa. Ide-ide luar biasa bisa menetas dari rahim para guru-guru terbaik yang kita punya. Menjadi seorang guru yang tak lekang oleh waktu. Abadi karena ia menulis.

0 Comments

Tinggalkan Balasan