Ruang berbagi untuk saling menginspirasi

Pesta Demokrasi, Pemilos ala SMA Hiro

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on tumblr
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on telegram

Salam semangat untuk para sahabat, calon pahlawan tanpa tanda jasa. Perbedaan sudah menjadi hal yang sangat lumrah di Indonesia. Sayangnya, masih banyak yang gagal menyikapi perbedaan tersebut secara dewasa. Karena itulah, di Indonesia banyak sekali konflik yang disebabkan oleh perbedaan, salah satunya adalah perbedaan pilihan dalam Pemilu.

Masih hangat sekali ketika Pemilu 2019 untuk memilih presiden dan wakil presiden seakan membelah masyarakat Indonesia menjadi dua bagian lantaran perbedaan pilihan. Saling hujat, saling hina dan hal-hal yang tidak sehat lainnya untuk Indonesia yang beragam, terjadi pada Pemilu tersebut.

Seharusnya, kita semua harus bisa berkaca pada pelangi yang begitu terlihat indah memesona dengan mejikuhibiniu-nya. Karena biar bagaimanapun berbeda pilihan bukanlah alasan yang tepat untuk kita saling menghujat.

Dari realita di atas, rasanya dunia pendidikan adalah sarana yang tepat untuk menjadi solusi masalah ketidakdewasaan masyarakat dalam menyikapi perbedaan pendapat.

Karena itulah, setiap sekolah harus mampu memberikan sebuah terobosan agar bisa mencetak manusia-manusia untuk menjadi agen-agen perubahan, khususnya perubahan pola pikir masyarakat dalam menyikapi berbagai macam perbedaan.

Saat antrian untuk melakukan pemilihan OSIS

Salah satu contohnya adalah mengajarkan siswa-siswi untuk berdemokrasi sejak dini, seperti yang dilakukan oleh SMA Hiro Teluknaga, Tangerang. Sekolah swasta yang berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Hidayaturrohman tersebut mengajarkan sekaligus membekali siswa-siswinya dengan praktik langsung memilih ketua OSIS, yang menurut istilah mereka disebut Pemilos (Pemilihan Osis).

Tujuannya adalah, agar kelak siswa-siswi mereka bisa berdemokrasi dengan baik ketika sudah berada di tengah-tengah masyarakat. Sehingga mereka bisa menyikapi perbedaan yang nanti terjadi dengan ramah bukan marah, dengan sabar tidak kasar, dan dengan bijak bukan menginjak.

Penulis : M. Iqbal Fauzi |Guru SMA Hiro, Teluk Naga, Tangerang, Banten.

Baca :  Kemendikbud : Agenda Tahun Ajaran Baru

0 Comments

Tinggalkan Balasan