Foto : denmaspriyadi.blogspot.com/

Pentingnya Ruang Eksplorasi Siswa

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on tumblr
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on telegram

Saat masih bersekolah, saya teringat betul guru yang sedang berceramah dalam kurun waktu yang terbilang lama. Dengan banyaknya materi yang disampaikan. Terkadang melebihi kehebatan juru kutbah Jumat yang biasanya cukup setengah jam sudah selesai. Dengan waktu yang selama itu para guru sepertinya sudah terbiasa melakukannya. Hingga sudah menjadi kebiasaan menyampaikan materi dengan metode tersebut.

Meskipun para siswanya terlihat sedang berusaha menegakkan lehernya supaya tidak terjatuh ke meja, menjaga kantuk dan melakukan hal-hal yang tidak penting. Salah satu kebiasaannya lainnya, yakni sering menggambar, membuat mainan bahkan iseng kepada teman yang lain.

Semua itu dilakukan supaya bisa menegakkan lehernya agar tetap tegak lurus dan fokus belajar untuk memahami penjelasan dengan baik setiap kata demi kata, kalimat demi kalimat. Alhasil, upayanya tak mampu berbuat banyak. Setiap kali ditanya, terkadang peserta didik belum berhasil menjawabnya dengan baik.

Namun sebaliknya usaha yang dilakukan untuk mengatasi persoalan yang di alami peserta didik. Justru menciptakan ruang belajar yang kurang kondusif hingga mengalihkan pada kegiatan lainnya. Bahkan terkadang membuat peserta didik tertidur pulas hingga jam pelajaran berakhir.

Pada 2015, Microsoft merilis hasil studi dengan temuan yang cukup bombastis. Studi tersebut menyebutkan bahwa durasi fokus manusia untuk melakukan satu hal dalam satu waktu lebih rendah dari ikan mas koki. Tim riset Microsoft mensurvei 2000 responden dan melakukan tes elektroensefalografi guna mengetahui kemampuan otak.

Hasilnya, 44% orang berusaha keras untuk fokus melakukan hal yang sedang mereka lakukan. Empat puluh lima persen lainnya mudah terdistraksi dengan aktivitas seperti mengkhayal.

Jika merujuk pada studi tersebut, hebatnya adalah guru berhasil melatih daya imajinasi atau khayalan ketimbang materi ajarnya. Tentu sudah jelas guru adalah pendidik bukanlah penceramah. Jika guru indentik dengan berceramah, apa bedanya guru dengan penceramah.

Nyatanya, hal ini masih dilakukan di beberapa sekolah. Sedangkan motif belajar belum dibangun bersama agar peserta didik memahami betul maksud dan tujuan pembelajarannya. Terlebih di ajak untuk terlibat langsung pada proses pembelajaran. Cederung materi yang disampaikan kurang interaktif, hanya menyasar pada ranah kognitif saja.

Baca :  Tantangan Keragaman Sekolah

Pola interaksi hanya satu arah yang terjadi dalam pembelajaran di kelas. Hingga objek pembelajaran terkesampingkan. Justru fokus pada materi ajar yang seolah-olah menjadi syarat wajib untuk disampaikan sesuai dengan materi yang terangkum pada buku paket.

Jika merujuk pada pendapat M. Csíkszentmihályi, penulis Flow: The Classic Work on How to Achieve Happiness (2002), yang menyatakan bahwa “Orang akan fokus bila ada tuntutan yang lebih besar dari biasanya. Jika tak ada tuntutan atau keharusan, mereka akan cepat bosan. Sebaliknya, bila terlalu banyak, maka mereka akan gelisah.”

Tentu jelas, tanpa motif yang dibangun bersama pada proses pembelajaran menjadi kurang efektif. Sebab peserta didik seolah dipaksa untuk menalar semua materi yang disajikan.

Sudah seharusnya guru menempatkan diri sebagai fasilitator yang dapat mengarahkan, membimbing, serta membantu memecahkan masalah. Hingga dapat membangkitkan memori pada pengalaman-pengalaman sebagai sumber belajarnya. Menempatkan materi pada fakta yang sebenarnya. Mengelaborasi setiap masalahnya. Hingga memecahkan masalah bersama. Dan menemukan solusi yang tepat.

Ibarat tanaman di dalam pot, yang disiram air berlebihan akan tumpah kemana-kemana. Jika kita sadari betul bahwa setiap tanaman memiliki kebutuhan kadar air yang berbeda-beda. Tak bisa tanaman kaktus disamakan dengan tanaman seperti sri rezeki yang kuat dengan jumlah debit air yang cukup besar. Cukup dengan menyiram secukupnya pada tanaman tersebut dengan menakar kebutuhan yang seharusnya.

Hal inilah yang perlu juga dipelajari bersama untuk menemukan jalan keluarnya. Yakni dengan membangun kesadaran pada peranan masing-masing antara guru dan peserta didik.

Maka perlulah bagi peserta didik untuk diberikan ruang eksplorasi pada setiap materi yang diajarkan. Agar mereka dapat belajar dengan maksimal, sehingga setiap aspek afektif dan psikomotornya dapat bekerja dengan baik. Bukan justru terhakimi dengan materi yang diajarkan.

0 Comments

Tinggalkan Balasan