Ruang berbagi untuk saling menginspirasi

Ilustrasi : https://i1.wp.com/hatma.net

Pentingnya Mengutamakan Adab

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on tumblr
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on telegram

Mari sejenak pahami makna dari gambar-gambar dibawah ini. Apakah ada yang merasakan hal yang sama dengan saya bahwa apapun itu, seorang guru adalah orang yang turut membantu dalam kesuksesan kehidupan kita hingga saat ini?

Krisis moral? Ya, benar. Indonesia sedang krisis moral dan ini sudah berlangsung cukup lama semenjak banyaknya pengaruh negatif masuk dan bukannya membaik, tetapi semakin menjadi. Bahkan pendidikan di Indonesia hampir goyah karena masuknya paham-paham yang tidak sesuai salah satunya adalah individualisme.

Apa itu individualisme? Individualisme dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan 3 maknanya, yaitu: paham yang menganggap manusia secara pribadi perlu diperhatikan (kesanggupan dan kebutuhannya tidak boleh disamaratakan), paham yang menghendaki kebebasan berbuat dan menganut suatu kepercayaan bagi setiap orang, paham yang mementingkan hak perseorangan di samping kepentingan masyarakat atau negara dan paham yang menganggap diri sendiri (kepribadian) lebih penting daripada orang lain. Dan jika paham seperti ini sudah mendarah daging, lalu harus bagaimana? Apakah ini kesalahan dari sistem pendidikan di negara kita?

Ditinjau dari pengertiannya, ilmu dan adab memiliki arti yang sangat bertolak belakang. Ilmu menurut Soerjono Soekanto adalah pengetahuan yang tersusun sistematis dengan menggunakan kekuatan pemikiran, pengetahuan dimana selalu dapat diperiksa dan ditelaah (di kontrol) dengan kritis oleh setiap orang lain yang mengetahuinya. Sedangkan menurut K.H. Hasyim Asy’ari mengatakan bahwa adab adalah satu istilah khas dalam agama Islam seperti halnya makna iman, Islam, ibadah dan lainnya. Adab bukanlah sekedar “sopan santun” atau baik budi bahasa, atau yang populer saat ini dengan istilah membangun karakter (character building) dalam suatu pendidikan. Dengan memahami kedua hal ini dengan baik, pastinya sudah paham mengapa ini menjadi hal yang benar-benar harus diingat dan diperhatikan.

Sistem Pendidikan di Indonesia sesungguhnya lebih baik. Karena adanya materi moral atau karakter sehingga bukan hanya transfer ilmu dari guru ke siswa tapi juga memberi contoh atau teladan yang baik. Sesuai dengan slogannya,” guru itu digugu (dipercaya) dan ditiru (diikuti), guru selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik meskipun terkadang itu tidak mudah. Ada juga yang menyatakan bahwa pendidikan yang baik berawal dari rumah yaitu keluarga. Karena itu merupakan lingkungan pertama anak dalam berinteraksi dan berkembang.

Baca :  Humanistik dalam Pembelajaran

Ungkapan lainnya yaitu jika di rumah dan di sekolah sudah maksimal dididik, maka anak juga bisa terpengaruh dari lingkungan luar seperti pertemanan, sosial media dan lainnya. Memang tidak dapat dihentikan setiap hal baru yang masuk, tapi setidaknya benteng yang kuat berawal dari keluarga dan pendukung utama adalah pendidikan di sekolah. Dan kekuatan ini dapat menjadi kuat karena pendidikan agama yang menjadi dasar seseorang dalam bertindak. Karena pastinya memberikan pemahaman kepada siswa tentang sebab dan akibat jika melakukan hal yang benar dan salah.

Berbicara tentang yang manakah yang paling utama, ilmu atau adab, pastinya banyak yang memiliki pendapat pro dan kontra. Jika banyak orang pintar yang berlomba untuk mencari ilmu hingga ke tingkat pendidikan paling tinggi namun sisi kekurangannya adalah tidak terkontrolnya adab karena hanya ingin baik hanya untuk diri sendiri dan tujuan tertentu. Disisi lain, banyak orang yang sederhana dalam mengejar impiannya tapi tetap menjaga adab karena pastinya adab akan menjadi kebaikan tersendiri.

Seperti contohnya banyak pejabat yang sukses dengan menyandang beberapa gelar karena obsesinya yang besar pada pendidikan, namun ketika sudah dipuncak kejayaan, mereka lupa mereka lahir dan terbimbing oleh siapa. Banyak siswa yang tidak lagi memiliki rasa segan terhadap guru malah mereka bertindak diluar batas hanya karena ditutupi oleh rasa kebencian dan tidak dapat mengontrol dirinya. Dan banyak guru mendapat intimidasi jika bersikap tegas kepada siswanya lalu melaporkan guru kepada kepolisian. Dan masih banyak hal lain yang terjadi yang hanya menitikberatkan pada ilmu bukan pada adab. Apakah hal seperti ini dibiarkan saja?

Miris rasanya melihat kondisi seperti ini. Seakan semua bimbingan pendidikan itu hanya menjadi formalitas hitam diatas putih bukan melahirkan generasi yang memiliki karakter luhur dan unggul. Guru bukan hanya menyampaikan ilmu pengetahuan tetapi juga mendidik dan mengarahkan siswa yang tidak paham menjadi paham. Tidak ada sedikitpun rasa mengharap imbalan besar kepada siswanya. Tapi ketika siswa tersebut paham akan mana yang baik dan tidak baik, maka tiada kata lain selain mengucap syukur karena guru telah menolong satu orang manusia yang tersesat menjadi lebih terarah dan berkarakter.

Baca :  Mengenal Gaya Belajar Anak

Mengapa setiap bertemu guru di sekolah sebaiknya kita memberi salam dan mencium tangannya? Hal ini membawa dampak positif bagi siswa dan guru. Siswa meminta restu untuk mendapatkan ilmu sedangkan guru ikhlas memberikan apa yang dimiliki karena mengajar itu adalah panggilan jiwa dan pengabdian terhadap sesama dan bangsa. Bagi saya adab adalah utama karena mencerminkan siapa kita baik dari perbuatan maupun ucapan. Karena sejatinya, ilmu dapat dicari dan dipelajari. Terima kasih.

0 Comments

Tinggalkan Balasan