Ruang berbagi untuk saling menginspirasi

Mengenal Kecerdasan melalui Multiple Intelligen

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on tumblr
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on telegram

Setiap orang memiliki karakter atau kepribadian yang berbeda begitu juga dengan kecerdasan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, perlu kita sadari bahwa setiap anak memiliki keunikan atau kecerdasan yang perlu di dukung sehingga potensi yang dimilikinya dapat berkembang dengan baik.

Begitu juga dalam proses belajar, mereka selalu memiliki caranya sendiri untuk mengartikulasikan. Jadi tidak bisa setiap anak diperlakukan hal yang sama dalam mengembangkan potensinya.

Maka sebagai pendidik kita perlu mengetahui dengan tepat kecenderungan apa yang dimiliki setiap anak. Atas dasar tersebut kita akan mengetahuinya, sehingga kita tahu apa yang harus dilakukan oleh setiap pendidik atau orang tua. Dalam prosesnya belajarnya anak dapat berkembang dengan baik sesuai dengan minat dan cara belajarnya.

Hal ini yang perlu diketahui oleh setiap pendidik atau orang tua berdasarkan kemampuan yang dimilikinya (kemampuan motorik), dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru (kemampuan sosial) untuk menemukan dan menciptakan masalah sebagai dasar untuk memperoleh pengetahuan baru.

Menurut Gardner ahli pendidikan dari Universitas Harvard AS dalam bukunya yang berjudul Frames of Mind: Teori Multiple Intelligen tahun 1983 mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan untuk memecahkan suatu masalah, menciptakan suatu (produk) yang bernilai dalam suatu budaya. 

Teori kecerdasan majemuk Gardner sangat terkenal dikalangan pendidik karena menawarkan model untuk bertindak. Kecerdasan itu meliputi daya pikir dan perkembangan kognitif.

Ada 4 perkembangan kognitif yang dicetuskan oleh Jean Piaget yaitu (1) sensorimotor pada anak usia 0-2 tahun, (2) praoperasional pada anak usia 2-7 tahun, (3) operasional konkret pada anak usia 7-12 tahun, (4) dan operasional formal pada anak usia >12 tahun.

Pada awalnya multiple intelligence yang dicetuskan hanya 8 jenis kecerdasan, tetapi seiring berkembangnya waktu dan pengetahuan multiple intelligence ini menjadi 9 kecerdasan, yaitu:

kecerdasan sebagai kemampuan untuk memecahkan suatu masalah, menciptakan suatu (produk) yang bernilai dalam suatu budaya.

Gardner – Frames of Mind: Teori Multiple Intelligen
  1. Inteligensi linguistik (linguistic intelligence)
    Artinya kemampuan untuk menggunakan kata-kata secara efektif baik secara lisan maupun tertulis. Lingustik tertulis dapat dicontohkan dalam kemahiran mengarang puisi, cerpan dan lain-lain. Sedangkan lingustik lisan berupa kemahiran bercerita dan mendongeng.
  2. Inteligensi matematis-logis (logical -mathematical intelligence)
    Artinya kemampuan yang berkaitan dengan penggunaan bilangan dan logika. Anak yang memiliki kecerdasan matematis logis biasanya mampu mengenal dan mengamati konsep jumlah, waktu dan prinsip sebab-akibat, mampu mengamati objek dan mengerti fungsi dari objek tersebut dan pandai dalam memecahkan masalah yang menuntut pemikran logis.
  3. Inteligensi ruang (spatial intelligence)
    Yaitu kemampuan unutk menangkap dunia ruang visual secara tepat dan juga mengenal bantuk dan benda secara tepat. Anak yang mempunyai kecerdasan spatial ini biasanya senang mencoret-coret, menggambar, melukis, dan lain-lain.
  4. Inteligensi kinestetik-badani (bodily- kinesthetic intelligence)
    Yaitu kemampuan untuk menggunakan tubuh dan gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan. Anak yang mempunyai kecerdasan kinestetik ini biasanya memiliki kontrol pada gerakan keseimbangan, ketangkasan, dan keanggunan dalam bergerak, dan menyukai pengalaman belajar nyata yang menggunakan fisik, senang menari, olahraga dan mengerti hidup sehat, suka menyentuh, memegang dan bermain dengan apa yang sedang dipelajari dan suka belajar yang suka terlibat secara langsung.
  5. Inteligensi musikal (musical intelligence)
    Yaitu kemampuan untuk mengembangkan, mengekspresikan dan menikmati bentuk-bentuk musik dan suara, peka terhadapa ritme, melodi, dan intonasi serta kemampuan memainkan alat musik. Anak yang memiliki kecerdasan musical biasanya menyukai banyak alat music dan selalu tertarik untuk memainkan alat music, senang bernyanyi dan lain-lain.
  6. Inteligensi interpersonal (interpersonal intelligence)
    Yaitu kemampuan untuk mengerti dan menjadi peka terhada perasaan, intense, motivasi, watak, temperamen orang lain. Anak yang memiliki kecerdasana interpersonal umumnya biasanya mengenal emosi diri sendiri dan orang lain, serta mampu menyalurkan pikiran dan perasaan dan mampu bekerja mandiri dan mengembangkan konsep diri secara baik.
  7. Inteligensi intrapersonal (intrapersonal intelligence)
    Yaitu kemampuan yang berkaitan dengan pengetahuan akan diri sendiri dan kemampuan untuk bertindak secara adaptif berdasar pengalaman diri serta mampu berefleksi dan keseimbangan diri, kesadaran tinggi akan gagasan-gagasan. Anak yang memiliki kecerdasan intrapersonal biasanya memiliki hubungan baik dengan orang lain, pandai menjalikn hubungan sosial, memiliki kemampuan untuk memahami orang lain dan berkomunikasi dengan baik dan juga mampu menyesuaikan diri dengan kelompok yang berbeda.
  8. Inteligensi lingkungan/naturalis (naturalist intelligence)
    Yaitu kemampuan untuk mengerti flora dan fauna dengan baik, menikmati alam, mengenal tanaman dan binatang dengan baik. Anak yang memiliki kecerdasan naturalis biasanya suka mengamati, menegnali, berinteraksi, dan peduli dengan objek alam, tanaman atau hewan dan juga gemar melakukan aktifitas outdoor seperti jalan-jalan.
  9. Inteligensi eksistensial (existentialintelligence)
    Yaitu kemampuan yang berkaitan dengan kepekaan dan kemampuan seseorang untuk menjawab persoalan-persoalan terdalam keberadaan atau eksistensi manusia. Anak yang memiliki intelegensi eksistensial biasanya memiliki kesadaran tinggi dalam menjalankan kewajiban terhadap Tuhan dan memiliki upaya untuk menjadi lebih baik.
Baca :  'Golden Age', Masa Perkembangan Anak

Jadi penting bagi kita untuk mengetahui kecerdasan setiap anak. Karena jika kurang tepat dalam pemberian stimulus, maka kecerdasan tersebut tidak berkembang baik sehingga potensi yang dimilikinya tertutup oleh stimulus-stimulus yang lain dan bisa membuat anak terus-terusan beradaptasi dengan hal-hal baru yang bukan dalam bidangnya karena tidak sejalan.

Dengan stimulus yang tepat dalam setiap kecerdasan, maka setiap anak akan dapat berkembang dengan baik sehingga dapat tereksplorasikan kecerdasan yang dimiliknya.

0 Comments

Tinggalkan Balasan