Konsep Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on tumblr
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on telegram

Ki Hajar Dewantara atau dikenal dengan nama asli Soewardi Surjaningrat adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah bangsa Indonesia dalam memajukan pendidikan di tanah air. Beliau adalah tokoh pelopor dan pendiri taman siswa, serta pernah diangkat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pertama setelah Indonesia merdeka.

Ki Hadjar Dewantara juga merupakan pahlawan nasional yang dihormati sebagai bapak pendidikan nasional di Indonesia. Untuk menghormati jasa-jasanya, pemerintah menetapkan setiap tanggal 2 Mei atau tanggal kelahirannya sebagai Hari Pendidikan Nasional atau HARDIKNAS. Penetapan itu melalui Keppres No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959.

Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani

Ki Hajar Dewantara

Buah pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah warisan budaya bangsa dan menjadi salah satu kekayaan keilmuan milik bangsa Indonesia. Konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara pada dasarnya yang paling sesuai untuk meningkatkan kualitas pembangunan manusia Indonesia seutuhnya maupun pembangunan nasional yang bercirikan kepribadian bangsa Indonesia.

Untuk merealisasikan pemikirannya, maka Ki Hajar Dewantara mendirikan taman siswa. Dalam kongres taman siswa pada tahun 1947, beliau mempertegas pemikirannya dengan mengemukakan lima asas yang dikenal dengan panca darma. Kelima asas tersebut adalah Asas Kemerdekaan, Asas Kodrat Alam, Asas Kebudayaan, Asas Kebangsaan, dan Asas Kemanusiaan.

Sekolah yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara adalah National Onderwijs Institut Taman Siswa atau lebih dikenal dengan Taman Siswa. Sekolah ini didirikan pada 3 Juli tahun 1922 di Jogjakarta. Prinsip dasar yang ada dalam sekolah Taman Siswa dikenal sebagai Patrap Triloka. Prinsip ini kemudian digunakan sebagai pedoman bagi para guru.

Salah satu konsep dikenalkan oleh Ki Hajar Dewantara adalah momong, among, dan ngemong yang kemudian dikembangkan menjadi tiga prinsip kepemimpinan di Taman Siswa: Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani.

Pada dasarnya, konsep-konsep pendidikan itu mengutamakan cinta dan kasih sayang. Mendidik sebagai mana dilakukan orangtua atau Bapak dan Ibu kepada anak-anaknya sendiri.

Ing Ngarsa Sung Tuladha yang artinya di depan. Maksud di depan adalah seseorang harus bisa memberi teladan atau contoh. Teladan menjadi kata kunci kesuksesan dalam pembelajaran, sehingga ketika pembelajaran berlangsung seorang pendidik harus membimbing dan mengarahkan agar tujuan pembelajaran yang dipelajari siswa benar dan tepat.

Baca :  Strategi Bertahan untuk Menang di Era Pandemi

Selama proses pembelajaran guru tanpa sadar menjadi panutan bagi siswa baik dari kata maupun perbuatan. Oleh karena itu pendidik selain menguasai pengetahuan dia juga harus mempunyai pribadi yang dapat dicontoh.

Ing Madya Mangun Karsa yang artinya ditengah-tengah atau diantara seseorang bisa menciptakan prakarsa dan ide. Guru memiliki peranan penting untuk menstimulus agar terciptanya prakarsa dan ide di dalam proses pembelajaran. Kehadiran guru dapat memfasilitasi dengan beragam metode dan strategi agar tujuan pembelajar dapat tercapai. Selain itu, potensi yang dimilik oleh siswa dapat berkembang dengan baik.

Tut Wuri Handayani yang artinya dari belakang seorang pendidik harus bisa memberikan dorongan dan arahan. Pada pengertian itu seseorang harus dapat mendorong orang yang dalam tangungjawabnya untuk mencapai tujuan secara berkelanjutan dalam pekerjaannya.

Dalam proses pembelajaran, guru harus memberi dorongan kepada siswanya untuk selalu belajar dengan tuntas dan maju berkelanjutan. Sehingga kata kunci sukses dalam pembelajaran adalah belajar tuntas dan berkelanjutan yang memiliki makna pada kehidupan.

Guru, pendidik memiliki peranan penting dalam kemajuan suatu bangsa, sebab bangsa yang besar adalah bangsa yang terdidik melalui nilai-nilai luhur. Sehingga label guru sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa” perlu disematkan kepada setiap guru, karena telah mendedikasikan dan mengabdi kepada negara demi kemajuan sebuah bangsa, yakni bangsa Indonesia.

Selain itu, guru adalah teladan yang perlu di dengar ucapannya dan ditiru perbuatannya, baru kemudian sebagai fasilitator atau pengajar. Sehingga menghasilkan pribadi-pribadi yang beradab, bermartabat, berguna dan berpengaruh di masyarakatnya, yang bertanggungjawab atas hidup sendiri dan orang lain, yang berwatak luhur dan berkepribadian.

Ki Hajar Dewantara juga mengedepankan pendidikan karakter. Beliau mengajarkan bagaimana kita bisa memerdekakan diri kita sendiri dan tentu saja merdeka sebagai rakyat, bangsa, dan negara. Singkatnya, Ki Hajar Dewantara mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang percaya diri baik sebagai individu maupun bagian dari sebuah bangsa.

3 Comments

One thought on “Konsep Pendidikan Ki Hajar Dewantara

  1. sebenarnya ini yang perlu diperhatikan oleh pendidikan indonesia. udah dari sononya punya dasar pada perkembangan karakter. Gak cuman fokus nilai siswa

Tinggalkan Balasan