Ruang berbagi untuk saling menginspirasi

Ki Hajar Dewantara dan Merdeka Belajar

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on tumblr
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on telegram

“Manusia merdeka yaitu manusia yang hidup lahir atau batin tidak bergantung kepada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri.”

Ki Hajar Dewantara : 1889-1959

Kutipan yang diambil dari buku karya Ki Hajar Dewantara (KHD) itu merupakan prinsip yang dipegang, dalam usahanya berperan mewujudkan Indonesia merdeka melalui pendidikan dan pengajaran di masa kolonial masih berkuasa. Pengajaran dapat membentuk manusia yang merdeka secara lahir, pendidikan dapat memerdekakan secara batin.

Adalah mustahil mengisi Indonesia merdeka tanpa manusia-manusia terdidik. Maka, pendidikan merupakan keniscayaan bagi generasi yang akan meneruskan perjuangan para pendiri bangsa. Di masa kini, pendidikan masih merupakan jantung pemompa bagi kemajuan bangsa. Tak ayal, sebagai pengemban tugas mulia dalam pendidikan, ajaran KHD patut diteladani oleh guru baik sebagai prinsip maupun praktik.

Oleh karena itu, pendidikan dan pengajaran dapat mempengaruhi kemerdekaan seseorang. Tiga Macam sifat kemerdekaan dalam pengajaran agar peserta didik memiliki sikap merdeka.

Pertama, berdiri sendiri. Kemerdekaan yang diraih dari kekuatan sendiri tanpa terikat oleh segala persoalan yang mengikatnya. Hingga mampu melakukan segala sesuatu yang positif atas dasar kemauan sendiri. Tanpa adanya dorongan dan motif dari orang lain. Kekuatan itu tumbuh dari buah pikirannya sendiri untuk menentukan masa depannya.

Di masa silam, kekuatan inilah yang dipedomani para pendiri bangsa melepaskan diri dari belenggu kolonial. Kemerdekaan bangsa Indonesia diraih atas kemauan dan kekuatan rakyatnya sendiri. Mampu berdiri di atas kaki sendiri merupakan nilai yang perlu ditanam guru kepada siswa supaya memiliki jiwa yang merdeka. Sehingga kelak, anak mampu memutuskan yang terbaik bagi dirinya sendiri.

Kedua, tidak bergantung kepada orang lain. Agar mendapatkan kemerdekaan secara luas, semua hal sebaiknya diupayakan sendiri, tanpa bantuan dari orang lain. Sebab, bantuan orang lain seringkali mengikat kita pada tali hutang budi kepada yang memberi. Secara moral, kondisi ini dapat mengurangi keluasan kemerdekaan itu sendiri.

Tidaklah mudah membentuk mental seperti ini sebagai makhluk sosial. Bisa saja kita menerima bantuan apapun dan dari siapa saja, jika pada prinsipnya tidak mengikat dan memberatkan hingga membebani. Maka dalam hal ini, perlu kita telaah betul maksud dan tujuan bantuan tersebut agar kita tak berhutang budi.

Baca :  Matinya Spirit Ki Hajar Dewantara

Menepis sikap ketergantungan anak pada guru dan orangtua, melatih jiwa dan raganya melahirkan kemauan dan inisiatif atas perbuatan baik dan manfaat untuk diri, keluarga, dan lingkungan masyarakat yang lebih luas.

Ketiga, dapat mengatur dirinya sendiri. Untuk mengekalkan kemerdekaan, kita perlu berpikir jernih. Maka mengatur pikiran dan menata emosi menjadi pijakan gerak dan langkah menuju kemandirian. Kemerdekaan bukanlah kebebasan tanpa batas. Ia tidak boleh melanggar hak orang lain. Menyematkan pemahaman ini agar menjadi laku keseharian anak menjadi tanggung jawab melekat di pundak pendidik.

Merdeka Belajar

Guru yang notabene orangtua siswa di sekolah perlu menelaah dengan sangat baik pemikiran Ki Hajar Dewantara. Sebab melalui pendidikan dan pengajaran lahir generasi pendiri bangsa yang telah memerdekakan bangsa ini dari bangsa kolonial. Ini juga yang perlu diterapkan di lingkungan sekolah.

Sudah seharusnya guru dapat melahirkan siswa-siswa yang merdeka melalui pengajarannya. Siswa yang dapat menetukan masa depannya. Guru yang dapat menciptakan pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Membangun ekosistem pendidikan yang kondusif agar proses belajar menyenangkan. Bukan lagi guru karena tidak ada pilihan pekerjaan, atau sekadar menggugurkan kewajiban mengajar, hingga dijadikan tempat untuk memperkaya diri.

Jika melihat realitasnya, acapkali terjadi kegaduhan dalam dunia pendidikan. Persoalan demi persoalan di dunia pendidikan seolah tidak pernah tuntas. Semisalnya, perundungan siswa di sekolah, konflik antara guru dan siswa, perilaku guru yang tidak sepatutnya dan segala persoalan lainnya tidak akan terjadi andai nilai-nilai Ki Hajar Dewantara diaplikasikan dalam praktik pembelajaran.

Selain itu, sudah sepatutnya guru selalu adaptasi dengan perkembangan zaman, bertalian dengan perkembangan anak-anak maupun teknologi sebagai perangkat belajar. Maka, kehendak mau terus belajar menjadi kata kunci yang tak boleh luput dari guru.

Alhasil, ajaran KHD akan mudah diselami oleh guru yang berangkat mengabdi atas kemauan sendiri yang bisa memunculkan sikap profesional dan tulus. Jika ini terjadi, percayalah, Indonesia akan melahirkan generasi yang merdeka, kreatif dan inovatif.

0 Comments

Tinggalkan Balasan