Close-up of hand writing in notebook using a blue pen, focus on creativity.

Kembalikan Figur Kami yang Hilang

Bicara tentang mimpi merupakan motivasi manusia yang tidak disadari atau dapat juga dikatakan sebagai motivasi terselubung yang terjadi di alam bawah sadar. Mimpi juga merupakan naluri manusia yang dapat dirasakan oleh kesadaran. Mimpi juga terkadang menjadi keinginan atau harapan-harapan kita kedepannya setelah apa yang kita rasakan pada waktu waktu sebelumnya.

Sementara pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Artinya dalam proses pendidikan yang kami maksud di sini bagaimana perubahan sikap yang terjadi oleh seseorang menjadi lebih baik lagi.

Hampir dua tahun negeri kita dilanda wabah pandemi dan berjuang melawan pandemi covid-19 dan bukan hanya di Indonesia saja, bahkan sebagian besar negara di dunia pun mengalami hal yang sama. Pada saat itu, dunia sedang menghadapi masalah besar.

Berawal dari munculnya suatu wabah penyakit yang disebabkan oleh virus, yaitu virus corona yang akrab disebut Covid-19, di mana semua aspek kehidupan ekonomi, sosial, pendidikan  mengalami perubahan-perubahan yang semakin hari semakin mengkhawatirkan, mendebarkan seluruh isi dunia.

Dunia pendidikan yang ikut merasakan dampak dari pandemi yang sedang terjadi di mana seluruh aktivitas kegiatan di sekolah harus dihentikan untuk mencegah meluasnya virus corona tersebut. Dari tingkat pendidikan dasar sampai tingkat perguruan tinggi semua harus melakukan kegiatan belajar mengajar dari rumah dengan menggunakan media online atau yang sering kita dengar dengan sebutan BDR (Belajar Dari Rumah).

Pada awal pandemi memang banyak bapak dan ibu guru yang sempat kaget dan bingung dengan perubahan pola mengajar online di mana guru dan siswa tidak berada dalam suatu tempat yang sama, karena terbiasa dengan mengajar offline atau tatap muka biasa guru ditantang melakukan perubahan dalam melakukan proses belajar mengajar. Guru harus mau belajar kembali dengan segala keterbatasan yang dimiliki agar proses penyampaian materi kepada siswa tetap berjalan.

Berbagai platform dalam pengajaran mulai digunakan mulai dari penggunakan media Whatshapp Group sebagai media dalam proses belajar mengajar, berkembang dengan menggunakan media Google Classroom dan berbagai media lainnya guru dituntut untuk melakukan perubahan-perubahan dalam proses pengajaran yang dilakukan agar siswa dapat terlayani dengan baik dalam proses pembelajarannya. Berbagai pelatihan diikuti oleh guru mengenai media pembelajaran terbaru yang dapat digunakan di saat pendemi.

Peralihan cara pembelajaran ini memaksa berbagai pihak untuk mengikuti alur yang sekiranya bisa ditempuh agar pembelajaran dapat berlangsung, dan yang menjadi pilihan adalah dengan pemanfaatan teknologi sebagai media pembelajaran daring. Penggunaan teknologi ini memang sangat membantu guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran tetapi  sebenarnya bukan tanpa masalah. Selain permasalahan guru yang gaptek masih banyak di antaranya keterbatasan sarana dan prasarana.

Kepemilikan perangkat pendukung teknologi juga menjadi masalah tersendiri bukan hanya siswa tetapi guru juga masih banyak yang belum memiliki perangkat untuk melakukan kegiatan pembelajaran online, dan  bukan rahasia umum bahwa kesejahteran guru masih sangat rendah. Jadi, jangankan untuk memenuhi hal-hal tersebut, untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarganya saja masih banyak guru yang kesulitan.

Permasalahan selanjutnya jaringan internet yang tidak merata di mana yang kita ketahui pembelajaran daring tidak bisa lepas dari penggunaan jaringan internet. Tidak semua sekolah/madrasah sudah terkoneksi ke internet, sehingga guru-gurunya pun dalam keseharian belum terbiasa dalam memanfaatkannya. Kalaupun ada yang menggunakan jaringan seluler terkadang jaringan yang tidak stabil karena letak geografis yang masih jauh dari jangkauan sinyal seluler.

Metode pembelajaran daring ini sebenarnya sudah bukan barang baru, sebab di beberapa negara terutama di negara maju kegiatan ini sudah terbiasa. Proses pembelajaran di perguruan tinggi apalagi, tidak hanya di luar negeri namun di Indonesia juga sudah terbiasa dilaksanakan, namun untuk pembelajaran pada tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah belum begitu populer sehingga diperlukan persiapan yang sungguh-sungguh agar bisa berjalan dengan baik.

Perubahan peradaban dan metode ini menuntut stakeholder pendidikan untuk mempersiapkan diri dalam mengikuti perkembangan zaman seperti saat ini. Tak ada seorangpun yang dapat membantah ataupun menolak pesatnya perkembangan teknologi ini, bahkan kalau ada yang menolaknya, maka siap-siap saja akan tertinggal, bahkan akan terlindas oleh orang lain.

Teknologi ibarat dua mata pisau yang masing-masing memiliki peran yang sama besarnya, yaitu sisi positif dan negatif yang memberikan pengaruh terhadap perubahan peradaban manusia. Seluruh aspek kehidupan saat ini tidak bisa lepas dari teknologi, oleh karena itu literasi teknologi sangat penting bagi masyarakat, agar penggunaan teknologi betul-betul bermanfaat tanpa merugikan dan juga berdampak negatif terhadap tatanan kehidupan.

Pembelajaran di masa pandemi dan kemajuan teknologi  membuat kita kehilangan beberapa figur yang dulu pernah ada namun hilang untuk saat ini diantaranya:

  • Orang tua

Pendidikan sejatinya dilakukan oleh orang tua kerena seorang anak menjadi tanggung jawab orang tuanya. Pandemi memaksa orang tua untuk menjadi guru dalam pembelajaran online sehingga di tengah keterbatasan orang tua dalam melakukan pendampingan tidak sedikit yang menggunakan pendekatan emosional orang tua yang sering marah karena mendapatkan anaknya yang sulit diatur sehingga mereka tidak tahan dan menginginkan anak mereka belajar kembali di sekolah. Hilangnya figur orang tua yang baik, sabar, figur yang selalu membawa ketenangan bagi anak anaknya kini sudah tidak ada lagi.

  • Guru

Pembelajaran daring di masa pendemi membuat kita kehilangan sosok guru, di mana selama pembelajaran siswa hanya bertemu dan berhadapan dengan mesin atau perangkat saja. Guru yang hanya memposisikan diri sebagai pentransfer ilmu pengetahuan. Guru mesin memiliki kelebihan yang jauh lebih efektif dibanding manusia dalam mentransfer ilmu pengetahuan. Tetapi guru mesin tidak bisa mengajarkan sikap, guru mesin tidak bisa memberitahu siswa mana yang baik dan mana yang tidak baik. Tidak ada lagi sosok guru yang bisa mentransfer nilai-nilai yang baik terhadap siswanya. Tidak ada lagi sosok yang digugu dan ditiru oleh siswanya.

  • Siswa

Siswa di masa pembelajaran pandemi harus dituntut mengikuti kegiatan pembelajaran daring atau online setiap harinya sehingga yang dihadapi adalah sebuat perangkat atau mesin sehingga membuat perubahan secara psikologi bagi siswa. Hilangnya siswa yang ceria karena setiap hari harus berhadapan dengan tugas-tugas dari sekolah. Hilangnya kelompok bermain karena siswa selalu berkutat dengan HP atau gawai. Hal ini sangat berdampak bagi siswa/i kita, sungguh sangat disayangkan kemajuan teknologi membuat kita kehilangan figur siswa yang seperti dulu, siswa yang ramah, mengenal bapak dan ibu gurunya. 

Benarlah apa yang dikatakan oleh menteri pendidikan kita bahwa pembelajaran jarak jauh dapat berdampak buruk bagi siswa/i kita mulai dari ancaman putus sekolah sampai learning loss, adalah istilah yang mengacu pada hilangnya pengetahuan dan keterampilan baik secara umum atau spesifik, atau terjadinya kemunduran proses akademik karena suatu kondisi tertentu.

Pemerintah berupaya untuk segera mengadakan Pertemuan Tatap Muka Terbatas secara offline tentunya dilakukan dengan cara yang tidak melanggar protokol kesehatan yang sudah dibuat. Mungkin hal yang sangat sederhana melihat permasalahan di atas, penulis bermimpi tentang dunia pendidikan Indonesia bagaimana mengembalikan figur-figur yang hilang di saat pandemi Covid-19 dan tentunya kita berhadap pandemi segera berakhir.

Penulis : Hery Setyawan, M.Pd – Guru PPKn SMPN 42 Jakarta

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *