antarafoto

Guru dan Teknologi : Siapa Pegang Kendali?

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on tumblr
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on telegram

Suatu kali saya berdiskusi dengan seorang sahabat, profesi kami sama, guru. Dia berkeras pikir bahwa peran guru tidaklah mungkin bisa digantikan teknologi. Menurutnya, ada sentuhan tertentu yang tak dimampui oleh teknologi. Sahabat tak begitu jelas memaknai ‘sentuhan tertentu’ yang dimaksud.

Sementara saya sebaliknya, bagi saya, peran guru sebagian besar justru telah diambil alih oleh teknologi. Sebenarnya saya sendiri ingin membantah sekuat-kuatnya keyakinan saya itu. Sayangnya, setelah memeriksa hingga rinci, bekal saya sebagai guru telah sepenuhnya bisa dikerjakan, bahkan lebih sempurna oleh teknologi.

Saya tak ingin teknologi menguasai manusia. Kala teknologi mengunci sistem utama manusia, nalar dan emosi. Terbayang oleh saya betapa manusia tak ubahnya benda. Telanjang tanpa kemanusiaan itu sendiri. Di sanalah barangkali saya, yang guru ini, berperan. Meneguhkan kemanusiaan.

Lagi-lagi kenyataannya, langkah teknologi lebar-lebar, tak mudah kita mengikutinya dari belakang. Hanya untuk bersikap adaptif saja kita terseok-seok. Generasi dimana ketiban langkah terakhir teknologi, merekalah yang menuai kelimpahan kemudahan. Di sana pula lah, konsep kemanusiaan pun jauh dari acuan lama.

Saya kembali berpikir, akankah saya mengajarkan pemahaman lama untuk menghadapi jaman yang setiap saat muncul kebaruan.

Mungkin itu pula yang terpikir oleh sahabat saya. Makanya, ia begitu susah membunyikan gagasannya soal ‘sentuhan tertentu’. Barangkali sama dengan saya, hingga di pelosok pemikirannya yang dalam, bekal yang ia andalkan untuk jadi guru tersedia lebih variatif di internet. Teknologi menggenggam semuanya.

Sahabat saya rupanya tak puas, ia masih tak sanggup menerima gagasan bahwa guru bisa diganti oleh teknologi. Ia mengatakan pendidikan bukan hanya soal pengetahuan, tapi juga menumbuhkan karakter anak. Bagaimana mungkin menanamkan karakter tanpa guru.

Lalu saya ajukan pertanyaan padanya, apa yang paling kuat memberikan pengaruh positif terhadap dirinya dan kehidupannya. Saya tahu, sahabat saya ini merupakan guru yang berdedikasi tinggi, kemauannya terus belajar tak perlu diragukan. Dia juga pandai menulis artikel-artikel yang bagus. Maka, pertanyaan di atas perlu kiranya saya ajukan.

Baca :  Guru Adalah Pendidik Professional

Jawabannya telah saya duga, dari membaca buku-buku ia menjadi dirinya yang sekarang. Saya mengatakan padanya bahwa, integritasmu, kejujuranmu, moderasimu, keindonesiaanmu, bukankah itu diajarkan oleh Cak Nur, Cak Nun, Gus Dur, Pramoedya, Soekarno, Hatta, dan lain-lain, dalam buku-buku para tokoh terhormat itu. Sahabat saya tegas mengiyakan.

Kisah Bill Gates yang memutuskan berhenti kuliah dari Harvard University, lalu membenamkan diri dalam bacaan adalah contoh betapa buku mampu menyulap seseorang menjadi pribadi yang berkarakter, juga menjadi inovator. “Membaca adalah cara favorit saya untuk belajar tentang subjek baru,” kicaunya dalam twitter pada Jumat (01/03/2019) lalu.

Dari bukulah kita belajar. Dan dari internet anak kita sekarang belajar. Jika buku mampu membentuk karakter, demikian juga informasi yang berlimpah di internet. Sahabat saya lalu menukas, “maka diperlukan guru agar anak-anak tahu informasi mana yang berguna, seperti guru-guru saya yang memberitahu buku-buku mana yang berwibawa”.

Di situ poinnya, guru yang tahu maka akan memberitahu. Guru yang membaca maka akan mengajak muridnya membaca. Guru yang belajar maka akan memberi teladan bagi siswanya untuk belajar. Guru yang rendah hati maka akan menjadikan muridnya berbudi. Guru yang merdeka maka akan menginspirasi muridnya.

Guru macam itu yang mampu memegang teknologi sebagai alat. Lalu mengajarkan pada muridnya agar menguasai teknologi, bukan dikuasainya. Agar manusia tetap dengan nilai-nilai kemanusiaannya, bukan objek benda nirnurani.

Sayangnya, bahkan di tahun 2018 BKN merilis ASN dosen, pegawai pemerintah pusat, daerah, disusul guru adalah penyebar hoaks terbanyak. Apakah mereka bukan pembaca? Menyebarkan hoaks adalah perbuatan jahat yang samasekali jauh dari tipe pembaca yang kritis.

Mental guru yang ringan mengetukkan jempolnya untuk menyebar hoaks, membaca tapi tak memberi teladan, atau sebenarnya malas membaca? Entahlah. Data dari Kemendikbud tahun 2018, bahwa hanya 6,06 persen siswa sekolah dasar yang mampu membaca dengan baik mungkin dampak turunannya.

Dalam buku “Matematika Detik Level A : Membaca Angka Secepat Membaca Kata” di tuliskan bahwa sebelum era teknologi internet, masalah kebodohan berakar pada rendahnya kebiasaan baca-tulis. Setelah ada internet, akar masalahnya justru pada tingginya kebiasaan baca-tulis di media sosial. Minat baca tinggi, daya baca rendah (Ahmad Thoha Faz, 2019).

Baca :  Andai Aku Pejuang Kemerdekaan

Tak heran pula, jika seorang intelektual NU yang juga pakar Timur Tengah, Zuhairi Misrawi turut serius mengkritisi dunia pendidikan. Dikutip dari linimasa facebook-nya, Zuhairi mempertanyakan keseriusan institusi pendidikan membangun karakter peserta didik. Pasalnya, beliau kasihan melihat anaknya yang setiap hari harus membawa banyak buku.

Tak hanya itu, anaknya juga bercerita bahwa dalam salah satu ujian sekolah, dijumpai soal yang cenderung merendahkan kapasitas intelektual murid, misalnya, “apa hukumnya belajar tajwid”. Zuhairi berharap, Kementrian yang membawahi pendidikan, Kemenag dan Kemendikbud memberi atensi serius untuk membenahi dan menyelamatkan pendidikan kita.

Siswa lebih percaya internet

Sebuah potret pembelajaran misalnya, mengungkap cerita yang lain lagi. Sahabat saya merupakan guru IPS. Saat tema pembelajaran membahas tentang lembaga sosial, salah satu lembaga yang dibahas adalah lembaga pendidikan.

Kepada murid-murid kelas tujuh sahabat saya mengumpulkan pendapat siswa, bagaimana pandangan mereka terhadap pendidikan di Indonesia. Hasilnya, sebagian besar siswa menganggap sekolah tak lagi penting. Dengan bahasa sendiri mereka berkata, “buat apa kita sekolah, segala informasi tersedia lengkap di google”.

Sahabat saya hanya membatin, betapa nampak jelas kejenuhan siswa di sekolah. Sementara, dalam penuturannya, sebagian besar teman-teman guru di sekolah itu merasa sudah benar dalam mengajar. Jadinya, kegelisahan peserta didik tak tertangkap radar kepekaan guru-guru.

Cuplikan peristiwa itu sejatinya puncak gunung es. Praktik pengajaran asal kasih materi tanpa memerhatikan kehendak murid, mudah kita temui di kelas-kelas anak kita. Siswa dianggap objek, bukan subjek belajar yang mampu menggali sendiri pengetahuan baginya.

Tak ayal, sejumlah pakar berpendapat, masalah pendidikan tidak saja soal kurikulum yang sarat dengan nuansa administratif, tapi juga kualitas guru yang belum memadai.

Di tangan guru yang bagus, kurikulum yang jelek pun akan menghasilkan output siswa yang bagus. Tapi bila gurunya jelek, kurikulum bagus bukanlah garansi yang meyakinkan menjadikan siswa berdaya dalam nalar dan emosi. Itu ungkapan yang sering kita dengar dari para pengamat pendidikan.

Tulisan ini bukan ungkapan pesimistis. Sejumlah praktik baik guru dan komunitas guru bergeliat di pojok-pojok pelosok negeri. Dari itu berharap lahir guru-guru yang masih terus membaca, merawat pemikirannya lewat tulisan, merdeka, juga yang rendah hati dan sabar memberitahu muridnya. Guru yang tak mudah dikangkangi oleh teknologi.

Baca :  Peran Ibu Mendampingi Anak Agar 'Melek' Literasi Gawai

0 Comments

Tinggalkan Balasan