Ruang berbagi untuk saling menginspirasi

suara.com

Covid-19, Musibah atau Berkah?

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on tumblr
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on telegram

Beberapa bulan terakhir menjadi sebuah dunia baru bagi sebagian orang semenjak datangnya coronavirus dan COVID 19. Coronavirus menurut World Health Organization South-East Asia Indonesia adalah suatu kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Beberapa jenis coronavirus diketahui menyebabkan infeksi saluran nafas pada manusia mulai dari batuk pilek hingga yang lebih serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Coronavirus jenis baru yang ditemukan menyebabkan penyakit COVID-19.

Emang apa bedanya coronavirus dengan COVID 19? Dalam laman yang sama menyebutkan COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis coronavirus yang baru ditemukan.  Virus baru dan penyakit yang disebabkannya ini tidak dikenal sebelum mulainya wabah di Wuhan, Tiongkok, bulan Desember 2019. COVID-19 ini sekarang menjadi sebuah pandemi yang terjadi di banyak negara di seluruh dunia. Banyak sekali perubahan yang terjadi setelah datangnya virus ini mulai dari bidang Ekonomi, Pemerintahan, Politik hingga Pendidikan.

Pendidikan yang menjadi unsur wajib dan tidak bisa di hentikan harus terus beradaptasi hingga akhirnya pemerintah memeutuskan untuk menggunakan sistem online atau di sebut dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Sistem baru yang di terapkan di bidang pendidikan. Namun, apakah sistem ini efektif? Bagaimana para orang tua, guru dan siswa menyambut sistem yang di putuskan pemerintah ini?

Dengan adanya Corona Virus ini masyarakat banyak yang bersyukur. Selalu melihat sisi positif dari setiap hal yang terjadi. Namun memnag, kenyataan di dalam masyarakat tak sedikit yang mensyukurinya. Beberapa hal yang menyebabkan mereka bersyukur dengan corona virus ini terutama pada kebijakan pemerintah untuk merumahkan semua siswa dan menggunakan sistem online untuk meneruskan pendidikan. Yang pertama, memberikan rasa aman bagi orang tua terhadap anak-anaknya. Keadaan virus yang bisa menular tanpa melihat usia menyebabkan banyak orang tua khawatir kepada anak-anaknya.

Pasalnya, anak-anak yang masih suka main dan belum mengerti betul tentang menjaga diri sangat berpotensi untuk terpapar virus corona. Kedua, memberikan waktu lebih kepada keluarga untuk berinteraksi. Dengan sistem online, siswa akan belajar dari rumah, melakukan segala hal dari rumah. Disini, tugas orang tua memanglah bertambah berat, namun orang tua dapat mengawasi anaknya secara langsung dan memberikan motivasi kepada anaknya secara lebih dekat sehingga memberikan ruang romatisme antara anak dan orang tua.

Baca :  ECO-LOVE

Teknologi dan management konflik sangatlah penting di era sekarang. Semenjak adanya sistem belajar online sangat menampar para guru dan pihak sekolah untuk memutar otak bagaimana mereka bisa menjalankan sistem ini. Penggunaan teknologi secara efektif dan sistem pembelajaran yang harus terus di update. Dengan adanya belajar online, mau tidak mau segala yang terlibat akan melek teknollogi, memberikan pelajaran bahwa ini sangatlah penting dan membuka wawasan. Sistem pembelajaran yang bisa di kemas dengan menarik dan lebih efisien.

Namun tak dapat di pungkiri juga keberadan virus ini membawa ketidak harmonisan dalam masyarakat. Penggunaan sistem PJJ pada awalnya sangat meresahkan warga bahkan hingga saat ini. Ini terjadi pada kalangan bawah maupun atas. Pada kalangan bawah mereka mengeluhkan ekonomi yang sedang sulit namun harus membeli kuota untuk anak-anak mereka belajar.

Belum lagi keluarga yang belum memiliki smartphone dan jaringan yang memadai. Biasanya ini di keluhkan oleh mereka yang berada di daerah pelosok. Pada kalangan menengah ke atas, mereka lebih mengeluhkan sistem PJJ tentang mereka orang tua yang tidak bisa mendampingi belajar anak-anaknya di karenakan kesibukan mereka dalam mencari uang.

Dalam hal ini, apapun keadaan yang sedang terjadi akan ada sisi baik dan buruknya. Sekalipun keadaan yang sangat tidak menyenangkan akan ada hal positif yang kita ambil. Viruscorona yang memberikan kerugian di mana-mana nyatanya memberikan keharmonisan tersendiri bagi beberapa keluarga. Masalah yang timbul akibat kuota dan jaringan kini sudah di atasi oleh pemerintah dengan memberikan kuota kepada siswa/mahasiswa dan guru/dosen.

Namun, bagaimana kabar dengan daerah yang belum ada jaringan? Sampai saat ini. Itu masih menjadi PR pemerintah dalam menanganinya. Sementara yang bisa di lakukan oleh para guru ialah mendatangi rumah siswa dan melakukan pembelajaran rumah ke rumah. Namun ada pula yang melakukan sistem pembelajaran di tengah alam seperti sawah dan ladang.

0 Comments

Tinggalkan Balasan